Langsung ke konten utama

Belajar Tanpa Batas melalui VCT


Virtual Coordinator Training (VCT) sebuah cara baru dari diklat pembelajaran dalam jaringan yang selenggarakan SEAMEO SEAMOLEG untuk pendidikan Indonesia. 

VCT Batch 4
kabar pelatihan ini, aku dapat dari group WA guru kec prambanan. Awalnya aku ragu, antara ikut dan tidak karena kalau ikut terdaftar, aku yakin akan ruwet sekali apalagi jaringan internet kadang susah diakses saat berada disekolah. maklum sekolah di pegunungan(gayamharjo). Namun materi materi yang disajikan dalam kabar tersebut, sangat menarik. akhirnya akupun mendaftar peserta pelatihan. alhamdulillah, ditrima jadi peserta pelatihan VCT Batch 4 78.10. Dari sekian peserta beberapa nama sudah aku kenal. setelah dinyatakan ditrima, ada group besar untuk peserta pelatihan. di group besar diberikan link dan kelengkapan apasaja yang harus dipunyai saat peltihan nantinya. ada yang sdah mengisntal ada yang belum. Beruntungnya para instruktur mengadakan pertemuan offline  untuk kelompok batch 4 ini. Sabtu 18 mei 2019 bertempat di P4TK Seni Budaya, aku mengikuti pertemuan offline. ada juga yang bertempat di SMAN 7 Yogyakarta. di pertemuan offline inilah gambaran pelatihan itu semakin jelas. para peserta di bimbing instruktur untuk menginstal beberapa aplikasi yang harus dipunyai. seperti webex, fastone, recorder dll.

Setelah pertemuan offline, maka kelas dalam jaringan dimulai. dengan rincian tugas yang harus dilakukan peserta yaitu 2 kali menjadi presenter, 2 kali menjadi moderator, 2 kali menjadi host dan 6 kali menjadi peserta. 
syarat menjadi presenter membuat rooom kelas, membuat flyer, membuat materi presentasi, membuat daftar hadir online dan merekam kelas online yang berlangsung untuk kemudian di unggah ke youtube presenter.
moderator, bertugas memandu jalannya acara,, memperkenalkan presenter, menunggah link daftar hadir yang telah dibuat presenter ke dalam chat room yang bisa diisi peserta , bisa juga dimintai tolong untuk merekam. 
Host, sebagai panitia kelas online, menerima room kelas dari presenter, memperkenalkan moderator dan presenter. bertugas mengkondusikan microphone peserta saat presenter sedang mempresentasikan materi ataupun saat sesi tanya jawab.

Apa yang didapat dari pelatihan ini?
sangat banyak sekali yang aku dapat dari pelatihan ini. materi materi yang tadinya asing, setelah ikut pelatihan, menjadi tahu. seperti google form, membuat flyer, merekam pembelajaran, unggah video ke youtube. dan yang lebh besar dari itu, kekeluargaan. itulah efek samping dari pelatihan ini. rasa kebersamaan dan kkeluargaan itu tumbuh seiring pemenuhan tugas yang harus segera diselesaikan. akan sangat senang melihat teman juga selelsai dalam pengerajaan tugas. Bantu membantu dalam pengerjaan tugas menjadikan kami semamin akrab, walau belum pernah bertemu. 



Kabar baiknya,
pelatihan ini akan ada kelanjutannya yaitu VCT batch 5. ayo bagi teman teman yang tertarik dan ingin belajar lebih, mari bergabung di VCT Batch 5.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah-Langkah Efektif Menyusun PTK di Sekolah Dasar: Dari Refleksi Menuju Perubahan Nyata

  1. Pendahuluan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan salah satu bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran. Menurut Kemmis dan McTaggart (1988), PTK adalah “a form of self-reflective inquiry undertaken by participants in order to improve the rationality and justice of their own educational practices” . Artinya, guru tidak hanya menjadi pengajar tetapi juga peneliti yang merefleksikan praktiknya agar pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna bagi siswa. 2. Identifikasi Masalah Langkah awal dalam menyusun PTK adalah mengidentifikasi masalah yang muncul di kelas. Masalah tersebut biasanya berupa kesulitan belajar siswa, rendahnya motivasi, atau metode pembelajaran yang kurang efektif. Arikunto (2019) menjelaskan bahwa “masalah dalam PTK harus bersumber dari pengalaman nyata guru dalam proses pembelajaran dan dapat dipecahkan melalui tindakan yang dirancang secara sistematis.” Denga...

Penelitian Kuantitatif: Pendekatan, Ciri, dan Penerapannya dalam Dunia Pendidikan

 Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan ilmiah yang digunakan untuk mengkaji fenomena dengan cara mengukur dan menganalisis data numerik. Menurut Sugiyono (2019), penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, dengan pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, serta analisis data bersifat statistik. Pendekatan ini menekankan objektivitas dan generalisasi hasil penelitian terhadap populasi yang lebih luas. Pendekatan kuantitatif berangkat dari paradigma positivistik yang menempatkan realitas sebagai sesuatu yang dapat diukur secara empiris dan terukur. Creswell (2014) menjelaskan bahwa penelitian kuantitatif digunakan untuk menguji teori dengan cara meneliti hubungan antarvariabel yang dapat diukur menggunakan instrumen dan dianalisis dengan prosedur statistik. Dengan demikian, peneliti kuantitatif berusaha menemukan hukum-hukum umum yang berlaku secara luas melalu...

Strategi Sekolah dalam Mendukung Kesehatan Mental Siswa

  Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam perkembangan anak dan remaja, terutama di lingkungan sekolah. Sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan kesejahteraan psikologis siswa. Menurut World Health Organization (WHO, 2020), kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan di mana individu menyadari kemampuan dirinya, dapat mengatasi tekanan hidup secara wajar, bekerja secara produktif, serta mampu berkontribusi bagi lingkungannya. Dalam konteks pendidikan, kesehatan mental menjadi faktor kunci bagi keberhasilan belajar dan pembentukan kepribadian siswa. Salah satu strategi utama sekolah dalam mendukung kesehatan mental siswa adalah menciptakan iklim sekolah yang positif dan suportif . Iklim sekolah yang aman, ramah, dan penuh penerimaan dapat mengurangi tingkat stres dan kecemasan siswa. Cohen et al. (2009) menyatakan bahwa iklim sekolah yang positif meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses be...